Knowledge Networks in Social Media :Sonja Utz and Ana Levordashka (hal 173-176)
Indonesia merupakan salah satu negara di
dunia yang memiliki jumlah populasi penduduk terbanyak sehingga setiap
perubahan maupun inovasi yang terjadi akan langsung masuk dan dirasakan oleh
penduduknya termasuk dalam bidang teknologi. Berdasarkan hasil riset
Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di
Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah
tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial
mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Besarnya
populasi, pesatnya pertumbuhan pengguna internet dan telepon merupakan potensi
bagi ekonomi digital nasional. Alhasil, muncul e-commerce, transportasi online,
toko online dan bisnis lainnya berbasis internet di tanah air. Ini akan menjadi
kekuatan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Media sosial adalah istilah umum untuk
sekelompok besar alat online. Yang paling terkenal adalah situs jejaring sosial
(SNS) seperti Facebook. SNS didefinisikan sebagai "layanan berbasis web
yang memungkinkan individu untuk (1) membangun profil publik atau semi-publik
dalam sistem terikat, (2) mengartikulasikan daftar pengguna lain yang mereka
bagikan koneksi, dan (3) melihat dan lintasi daftar koneksi mereka dan yang
dibuat oleh yang lain dalam sistem ”(Boyd & Ellison, 2007). Facebook menjadi
media sosial yang paling populer digunakan di dunia. Statista mencatat jumlah
pengguna aktifnya pada kuartal I-2019 mencapai 2,38 miliar. India menjadi pasar
terbesar Facebook. Jumlah pengguna Facebook di negeri Bollywood ini mencapai
260 juta pengguna.
Di era globalisasi, perkembangan
telekomunikasi dan informatika (IT) sudah begitu pesat. Teknologi membuat jarak
tak lagi jadi masalah dalam berkomunikasi. Internet tentu saja menjadi salah
satu medianya. Pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang.
Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring
sosial. Dilansir dari https://www.kominfo.go.id/
Direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan
Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring mengatakan, situs jejaring
sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia
menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan
India. Informasi yang dilansir pada https://www.cnbcindonesia.com/ yang Mengutip Statista
mengungkapkan bahwa pada kuartal I-2019 jumlah pengguna aktif Facebook per
bulan (active user) sudah mencapai 2,38 miliar. Angka ini meningkat 8% jika
dibandingkan jumlah pengguna aktif bulanan di kuartal IV-2018 sebanyak 2,32
miliar. Active user merupakan pengguna yang menggunakan Facebook dalam 30 hari
terakhir. Pada 2012 menjadi tonggak sejarah baru dari Facebook karena active user
tembus 1 miliar pengguna dan jaringan media sosial pertama di dunia yang
melampaui angka tersebut. Masih menurut statista, hingga April 2019 pengguna
Facebook terbanyak berasal dari India, jumlahnya 260 juta pengguna. Amerika
Serikat berada di posisi dengan jumlah pengguna 190 juta user. Peringkat ketiga
dan keempat adalah Brazil dan Indonesia dengan jumlah pengguna masing-masing
120 juta user. Lalu disusul Meksiko dengan jumlah pengguna 79 juta pengguna.
Beberapa SNS ditargetkan untuk para
profesional seperti Linkedln, namun situs linkedln ini adalah Media sosial yang
hanya diperunukkan bagi para profesional ini memiliki beberapa “aturan”
tertentu bagi setiap post yang dibuat oleh penggunanya. Jejaring sosial
profesional sangat berbeda dengan jejaring sosial umum seperti facebook. Tidak
sembarangan tema posting dapat dibuat. Dengan begitu akan tetap terlihat
profesional. Berbeda dengan SNS yang lebih berorientasi pada rekreasi, bidang
profil pada bisnis sangat mirip dengan riwayat hidup dan fokus pada pendidikan,
pengalaman profesional dan keterampilan dan tidak menawarkan kemungkinan untuk
membuat album foto. Ada fitur lain selain facebook yaitu Twitter. Pengguna juga
memiliki profil, tetapi mereka hanya dapat membuat posting pendek dengan
maksimal 140 karakter, yang disebut tweet. Tweet disiarkan ke semua orang yang
mengikuti pengguna. Pengguna Twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom,
memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global.
Twitter menjadi salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu
meraup keuntungan mencapai USD 145 juta.
Weblog, Wikipedia, tiktok, YouTube dan
situs berbagi foto seperti Instagram juga termasuk dalam media sosial header.
Semua sosial media ini dicirikan dengan sebagian besar kontennya dibuat
oleh pengguna: pengguna menulis pembaruan status, entri pembuka Wikipedia,
mengunggah foto, berbagi artikel, dan sebagainya. Selain itu, interaksi sosial
sangat penting, termasuk bentuk komunikasi phatic yang ringan seperti menekan
tombol untuk menunjukkan apresiasi terhadap sebuah postingan yang diunggah pada
media sosial seperti memberikan "Suka" pada tombol di Facebook,youtube,instagram,
dan tiktok serta memberi "favorit" di Twitter. peneliti sering fokus
pada fitur-fitur umum yang digunakan bersama oleh berbagai platform (Treem
& Leonardi, 2012). Konten di media sosial biasanya dibuat dan diedit oleh
pengguna. Ini juga sangat terlihat (sering publik atau semi-publik secara
default) dan persisten (posting dapat ditelusuri ke masa lalu). Tiga
karakteristik pertama ini (dapat diedit, visibilitas, kegigihan) juga berlaku
untuk beberapa bentuk komunikasi yang dimediasi komputer yang lebih lama,
seperti usenet-newsgroups. Akan tetapi, tampilan asosiasi publik adalah atribut
baru. Di media sosial, asosiasi antara orang (teman, koneksi, pengikut) serta
antara orang dan konten (suka, bagikan) ditampilkan atau dapat dengan mudah
dikaitkan dengan profil pengguna. Produsen di jejaring sosial adalah
orang-orang yang telah memproduksi sesuatu, baik tulisan di Blog, foto di
Instagram, maupun mengupload video di Youtube. Kebanyakan pengguna Twitter di
Indonesia adalah konsumen, yaitu yang tidak memiliki Blog atau tidak pernah
mengupload video di Youtube namun sering update status di Twitter dan Facebook.
Selain Twitter, jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah
Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta
pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.
Efek dari jaringan pengetahuan
(offline) sering dipelajari dari perspektif modal sosial. Modal sosial mengacu
pada manfaat yang dapat diambil orang dari jaringan mereka (Adler & Kwon,
2002). Maksudnya disini adalah orang dapat mendapatkan manfaat dari konten yang
diposting oleh si pemilik akun yang mereka ikuti. Sumber modal sosial terletak
pada isi dan struktur jaringan, dan hasilnya adalah manfaat yang bisa didapat
orang dari jaringan mereka. Penelitian modal sosial membedakan antara manfaat
emosional dan informasi. Manfaat emosional mengacu pada dukungan emosional,
sedangkan manfaat informasi didasarkan pada tiga kriteria: akses ke informasi,
ketepatan waktu akses ini dan rujukan, yaitu, direkomendasikan untuk peluang
kerja (Burt, 1992). Modal sosial dapat diukur pada tingkat individu, organisasi
atau bahkan masyarakat (Adler & Kwon, 2002).
Pada asumsi dasar analisis jejaring
sosial adalah bahwa kekuatan memberikan manfaat emosional kepada orang-orang,
sedangkan ikatan yang lemah memberikan manfaat informasi (lihat Adler &
Kwon, 2002, untuk ulasan). Manfaat sosial media yang memberikan dampak
emosional biasanya berasal dari hubungan dengan orang-orang, yang membuat
seseorang merasa dekat secara emosional, seperti keluarga,sahabat dan teman, hal
itu disebut dengan ikatan yang kuat.
Sedangkan hubungan dengan orang-orang, yang membuat seseorang merasa kurang
dekat secara emosional, seperti kenalan atau mantan teman sekelasnya, disebut
ikatan yang lemah yang menghasilkan dampak informasi bagi individu.
Sejalan dengan asumsi ini, studi
sosiologis menyatakan bahwa ikatan lemah ternyata lebih membantu ketika datang
untuk mencari pekerjaan baru (Granovetter, 1973). Studi tentang pertukaran
pengetahuan dalam organisasi, telah mengungkapkan hasil yang beragam; beberapa
penelitian menemukan bahwa orang mengambil informasi yang lebih bermanfaat dari
ikatan yang kuat (Hansen, 1999; Reagans & McEvily, 2003). Levin dan Cross
(2004) menunjuk pada peran penting dari kepercayaan. . Ikatan yang lemah
mungkin memang sering memiliki akses ke informasi baru, tetapi orang lebih suka
beralih ke ikatan yang bersifat kuat karena mereka menjadi lebih mempercayai
karena dirasa memilikihubungan emosional, mereka lebih banyak berbicara dan
tidak merasa kurang malu ketika mengungkapkan kurangnya pengetahuan dengan
meminta saran. Levin dan Cross (2004) menemukan adanya hubungan positif antara
kekuatan ikatan dan manfaat yang dirasakan dari pengetahuan yang diterima
kemudian berubah menjadi hubungan negatif saat memasukkan kepercayaan dalam
analisis; data mereka dengan demikian dapat menjelaskan temuan sebelumnya yang
tidak konsisten. Dapat dilihat bahwa dengan memiliki ikatan yang bersifat lemah
saja tidak cukup maka harus dengan didasari oleh kepercayaan yang yang nantinya
akan memperkuat dari informasi yang didapat. Ini sesuai dengan dimensi
kemampuan dan kebajikan / integritas dalam penilaian kepercayaan (Mayer, Davis,
& Schoorman, 1995) yang mencerminkan dua dimensi mendasar dari persepsi
orang, kompetensi dan moralitas (Wojciszke, Bazinska, & Jaworski, 1998).
Dalam era yang sudah menjamur jejaring
media sosial online maka akan memudahkan seseorang untuk mendapatkan informasi
dengan mudah bahkan yang sifatnya prosefional maupun pribadi, hal tersebut bisa
didapatkan dari sosial media karena biasanya para pemilik akun sosial media
akan kerap membagikan momen-momen pribadinya bahkan informasi tentang
profesionalitasnya seperti yang mereka tunjukkan pada platform Linkedln. Indonesia
menurut LinkedIn adalah negara dengan pendorong pertumbuhan terbesar di wilayah
Asia Tenggara. Di wilayah ini, jejaring sosial profesional itu punya basis 22
juta pengguna dibandingkan 20 juta pengguna pada kuartal sebelumnya. Di kawasan
Asia Pasifik sendiri, jumlah pengguna LinkedIn telah mencapai lebih dari 118
juta. India masih menjadi pasar terbesar bagi LinkedIn di negara Indonesia dan
terbesar kedua di dunia dengan jumlah pengguna mencapai 42 juta.
SUMBER
:
https://kumparan.com/kumparantech/linkedin-ungkap-jumlah-pengguna-di-indonesia/full
Schwan,
S., & Cress, U. (Eds.). (2017). The Psychology of Digital Learning: Constructing,
Exchanging, and Acquiring Knowledge with Digital Media. Switzerland: Springer
International Publishing.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar